Penerbit buku untuk ide, karya, dan pengetahuan yang berarti. Hubungi Kami via WhatsApp ↗
Artikel

Cara Mudah Membuat Puisi, Bahkan Jika Kamu Merasa Tidak Pandai Merangkai Kata

September 24, 2026

Banyak orang sebenarnya ingin menulis puisi, tetapi berhenti sebelum menuliskan baris pertama. Alasannya hampir selalu sama: merasa tidak pandai memilih kata, takut puisinya terdengar biasa, atau menganggap bahwa puisi harus selalu menggunakan bahasa yang indah dan sulit dipahami.

Padahal, puisi tidak harus dimulai dari kata-kata yang rumit. Puisi justru bisa lahir dari sesuatu yang sangat sederhana: perasaan, pengalaman, ingatan, seseorang yang kita rindukan, hujan yang turun sore hari, secangkir kopi, perjalanan pulang, bahkan sebuah kejadian kecil yang tidak ingin kita lupakan.

Yang paling penting adalah berani memulainya.

Mulailah dari Satu Perasaan

Cara paling mudah membuat puisi adalah menentukan terlebih dahulu apa yang sedang ingin kita ceritakan.

Tidak perlu langsung memikirkan judul.

Coba tanyakan kepada diri sendiri: Apa yang sedang saya rasakan?

Mungkin kamu sedang bahagia karena bertemu seseorang. Mungkin sedang kecewa. Bisa juga sedang merindukan rumah, mengingat masa kecil, berterima kasih kepada orang tua, atau sekadar menikmati suasana pagi.

Misalnya, kamu ingin menulis tentang kerinduan kepada ibu.

Tidak perlu langsung mencari kata-kata puitis. Tuliskan dahulu apa yang sebenarnya ingin kamu sampaikan.

“Aku merindukan rumah. Aku teringat masakan ibu. Aku ingin duduk lagi di meja makan seperti dulu.”

Kalimat sederhana seperti itu sudah bisa menjadi bahan awal sebuah puisi.

Tuliskan Semua yang Terlintas

Kesalahan yang sering dilakukan penulis pemula adalah ingin setiap kalimat langsung terdengar indah.

Akibatnya, baru menulis satu baris sudah dihapus. Menulis lagi, merasa kurang bagus, lalu dihapus kembali. Akhirnya halaman tetap kosong.

Pada tahap pertama, jangan terlalu sibuk menilai tulisan.

Tuliskan saja.

Misalnya:

“Aku rindu rumah.”

Lalu lanjutkan dengan gambaran yang muncul di kepala.

“Aku rindu suara pintu dibuka setiap pagi.”

“Aku rindu aroma teh dari dapur.”

“Aku rindu ibu yang selalu bertanya apakah aku sudah makan.”

Tanpa disadari, kamu sudah memiliki beberapa baris yang dapat dikembangkan menjadi puisi.

Gunakan Hal-Hal yang Bisa Dilihat, Didengar, atau Dirasakan

Puisi akan terasa lebih hidup ketika pembaca dapat membayangkan suasananya.

Daripada hanya menulis:

“Aku sangat sedih.”

Kamu dapat menggambarkannya dengan:

“Malam semakin panjang, sementara layar telepon tetap sunyi.”

Pembaca tidak diberi tahu secara langsung bahwa tokoh dalam puisi sedang sedih. Namun, mereka dapat merasakan kesedihan tersebut melalui suasana yang dibangun.

Cobalah memasukkan warna, aroma, suara, cuaca, tempat, benda, atau kenangan kecil yang berhubungan dengan pengalamanmu.

Hujan di jendela, sandal di depan pintu, bangku sekolah, jalan kampung, suara azan dari kejauhan, aroma tanah setelah hujan, atau secangkir kopi yang mulai dingin dapat menjadi bagian yang membuat puisi terasa lebih dekat dengan kehidupan.

Tidak Harus Selalu Berima

Ada anggapan bahwa puisi harus memiliki bunyi akhir yang sama.

Misalnya:

“Pergi ke taman membawa bunga,
Melihat burung terbang ke sana.”

Pola seperti itu boleh digunakan, tetapi bukan sebuah kewajiban.

Puisi modern dapat ditulis dengan bentuk yang jauh lebih bebas. Panjang setiap baris boleh berbeda. Jumlah bait tidak harus sama. Bahkan kamu tidak perlu memaksakan kata tertentu hanya karena ingin mendapatkan bunyi akhir yang serupa.

Yang lebih penting adalah apakah puisi tersebut mampu menyampaikan suasana dan perasaan kepada pembaca.

Pilih Kata yang Sederhana tetapi Bermakna

Tidak semua puisi membutuhkan kata seperti cakrawala, nestapa, sukma, atau senandika.

Kata-kata sederhana justru sering terasa lebih kuat karena dekat dengan kehidupan pembaca.

Perhatikan kalimat ini:

“Ayah tidak pernah berkata bahwa ia lelah.
Aku hanya melihat rambutnya semakin putih.”

Bahasanya sederhana. Namun, ada cerita dan perasaan di dalamnya.

Itulah salah satu kekuatan puisi.

Kita tidak harus berusaha terlihat seperti seorang penyair. Kita hanya perlu menulis sesuatu yang benar-benar ingin kita sampaikan.

Temukan Judul Setelah Puisinya Jadi

Jika kamu bingung mencari judul, jangan berhenti menulis hanya karena masalah tersebut.

Judul dapat dibuat belakangan.

Setelah puisinya selesai, baca kembali keseluruhan isi. Cari satu kata, suasana, benda, atau kalimat yang paling mewakili puisi tersebut.

Puisi tentang ibu tidak harus berjudul “Ibu”.

Kamu bisa menggunakan judul seperti “Lampu Dapur yang Masih Menyala”, “Telepon dari Rumah”, “Sepiring Nasi yang Kurindukan”, atau “Pulang yang Belum Sempat”.

Judul seperti ini sering membuat pembaca penasaran sebelum membaca isi puisinya.

Jangan Takut Merevisi

Puisi pertama tidak harus langsung sempurna.

Setelah selesai menulis, tinggalkan sebentar. Kemudian baca kembali.

Periksa apakah ada kata yang terasa berlebihan. Lihat apakah ada kalimat yang dapat dibuat lebih singkat. Perhatikan pula apakah ada bagian yang menjelaskan terlalu banyak.

Kadang-kadang satu baris yang sederhana justru lebih kuat daripada tiga baris yang terlalu panjang.

Menulis adalah proses. Hampir semua tulisan yang bagus pernah melewati tahap revisi.

Kumpulan Puisi Bisa Menjadi Sebuah Buku

Jika kamu sudah memiliki satu puisi, jangan berhenti.

Tulislah puisi kedua.

Kemudian ketiga, keempat, kesepuluh, hingga suatu hari kamu menyadari bahwa puisi-puisi tersebut mulai memiliki benang merah.

Mungkin sebagian besar berbicara tentang keluarga. Tentang perjalanan hidup. Tentang cinta. Tentang kehilangan. Tentang menjadi dewasa. Tentang pekerjaan. Tentang kampung halaman. Tentang perjuangan seorang ibu. Atau tentang percakapan-percakapan kecil yang pernah hadir dalam hidupmu.

Dari sanalah sebuah buku kumpulan puisi dapat lahir.

Tidak perlu menunggu menjadi penyair terkenal untuk menerbitkan buku.

Buku pertama justru dapat menjadi penanda bahwa pada suatu masa dalam hidup, kamu pernah memiliki pikiran, pengalaman, dan perasaan yang layak untuk disimpan dalam bentuk tulisan.

Tulisanmu Layak Mendapatkan Tempat

Ada tulisan yang dibuat untuk dibaca hari ini. Ada pula tulisan yang ingin kita tinggalkan untuk waktu yang jauh lebih lama.

Menerbitkan buku adalah salah satu cara menjadikan tulisan lebih berarti.

Jika kamu sudah memiliki kumpulan puisi, masih berupa beberapa tulisan, atau bahkan baru memiliki gagasan untuk membuat sebuah buku, Penerbit Yinni dapat menjadi teman dalam proses mewujudkannya.

Tidak harus menunggu naskah sempurna.

Mulailah dari apa yang sudah kamu miliki.

Satu puisi hari ini dapat menjadi satu halaman. Satu halaman dapat berkembang menjadi sebuah naskah. Sebuah naskah suatu hari dapat menjadi buku yang benar-benar bisa kamu pegang.

Penerbit Yinni hadir untuk membantu penulis membawa ide dan naskahnya selangkah lebih dekat menuju buku.

Karena terkadang sebuah buku tidak dimulai dari ratusan halaman.

Ia hanya dimulai dari keberanian menulis satu kalimat pertama.

Penerbit Yinni
Dari ide, menjadi tulisan. Dari tulisan, menjadi buku.
🌐 yinni.id
📱 WhatsApp: wa.me/6285724516443

WAHubungi